SatuPena Sumbar Bedah Buku “Tragedi Kanso Trauma Etnisitas Cina di Pariaman 1945”

0

 


Pariaman---Bedah buku Tragedi Kanso merupakan kegiatan yang mampu menambah pengetahuan kita semua tentang sejarah China di Pariaman. Pemko Pariaman hingga saat ini tidak menolak siapa pun yang datang dan berinvestasi di Kota Pariaman. Karena sejak zaman dahulu, sudah ada beberapa etnis di Kota Pariaman dan hal ini telah dibuktikan dengan adanya beberapa tempat seperti Kampung Cina, Kampung Jawa bahkan kuburan Cina pun ada di Kota Pariaman.

Demikian diungkapkan Wali Kota Pariaman Genius Umar pada saat menjadi Keynote Speaker  bedah Buku “Tragedi Kanso Trauma Etnisitas Cina di Pariaman 1945" karya Armaidi Tanjung di aula Balaikota Pariaman, Sabtu (19/8).  Genius mengapresiasi kegiatan dan mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini.

“Semoga saja dengan adanya kegiatan bedah buku ini, pengetahuan kita bertambah tentang bagaimana China dulu di Pariaman dan yang penting apabila kita ingin terus maju, jangan pernah bosan dalam membaca. Buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah itu sunyi, pemikiran dan spekulasi terhenti. Buku adalah mesin perubahan, jendela di dunia, mercusuar yang didirikan di lautan waktu,“ kata Genius menambahkan.

Pembedah buku Free Hearty mengungkapkan, setelah membaca buku Tragedi Kanso ini,  seperti menemukan sesuatu yang hilang. “Saya umur 7 dan 10 tahun di Kuraitaji Pariaman  ada perasaan kebencian pada orang Cina yang luar biasa. Dengan perasaan tersebut, dari lima benua yang saya  kunjungi selalu belajar dan ingin tahu tentang Cina di negara tersebut. Di Australia datang Cina selalu diusir penduduk setempat. Tetapi dengan gigih mereka masuk berdagang, menanam sayur, bahkan di tanah gersang berpasir, bisa tumbuh subur dengan tanaman. Akhirnya Cina tersebut  diterima juga karena memberi manfaat,” kata Free Hearty, mantan dosen Universitas Al-Azhar yang sudah banyak menulis buku ini.

Dikatakan Free, setelah membaca buku ini, bertemu benang merahnya. Orang Cina itu rajin, gigih, kerja keras, cari keuntungan, tapi bukan sepihak saja. Di Medan Cina mendekati penjajah untuk lebih eksisnya. Orang Cina yang tak peduli dengan kemerdekaan RI, tapi hanya mencari keuntungan saja. Sehingga berkhianat terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Tapi  ada juga Cina yang ikut membela kemerdekaan Indonesia,” kata Free. 

“Walaupun Cina lari dari Pariaman, tapi tak ada hartanya (barang) yang hilang. Semua asetnya tidak diganggu orang Pariaman ketika terjadi peristiwa Kanso. Berbeda dengan daerah lain, kerusuhan terhadap Cina, asetnya dirampas begitu saja,” kata Free. 

“Peralihan asset Cina yang ditinggalkan setelah eksodus dari Pariaman tetap saja dibeli kepada pemiliknya yang berada di luar Pariaman. Setelah mengetahui siapa pemilik asset (bangun) tersebut, dilakukan negosiasi. Artinya tidak pernah dirampas begitu saja,” tambah Armaidi Tanjung, penulis buku Tragedi Kanso. 

 Ketua DPD SatuPena Sumbar Sastri Bakry mengatakan bedah buku ini merupakan pelaksanaan salah satu program kerja SatuPena Sumbar. Sebelum ini,  diselenggarakan pelatihan menulis, peluncuran buku di Malaysia, dan bedah buku serta wisata literasi ke dalam maupun ke luar negeri. 

“Bedah buku Tragedi Kanso yang ditulis Sekretaris DPD SatuPena Sumbar Armaidi Tanjung patut diapresiasi. Sebelum ini belum ada buku yang ditulis terkait peristiwa kanso yang terjadi tahun 1945 di Pariaman,” kata Sastri yang juga rang Pariaman ini. 

Dikatakan Sastri, bedah buku ini memberi manfaat bagi kita dan orang luar. Kita semakin tahu bagaimana kronologis terjadinya peristiwa Kanso tersebut. 

Dosen Universitas Andalas, Hasanuddin menyebutkan, Pariaman  sejak abad ke- 16 telah menjadi pelabuhan/bandar lalu lintas yang ramai dan damai. Kota pantai itu tumbuh menjadi kota heterogen, plural bahkan multikultural. Nama-nama kampung  yang ada menunjukkan realitas faktual demikian. Sebutlah Kampung Cino (kampung komunitas Cina atau Tionghoa), Kampung Nieh (Kampung komunitas etnik Nias), Kampung Jawo (kampung komunitas etnik Jawa), Kampung Kaliang (kampung komunitas etnik India), kampung komunitas lainnya seperti Arab dan Eropa, kata Hasanuddin.

Ketua Panitia Andri Satria Masri menyebutkan,  bedah buku dipandu moderator Yurnaldi, wartawan utama. Kegiatan ini diselenggarakan sekaligus dalam rangka memperingati HUT ke-78 RI di Kota Pariaman. Audien yang hadir kelihatan antusias bertanya dan menggugat kehadiran buku yang sejak awal kehadirannya ada pro dan kontra. Setelah mendengarkan penjelasan wako Pariaman, narasumber dan penulis buku telah membuka pikiran mereka tentang etnis China di Pariaman.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top